TSUNAMI SUMMIT
Membangun Partisipasi Masyarakat Korban
Untuk Mendorong Percepatan Rekonstruksi Aceh dan Nias
| Sumber Dana | :
| ACE Jakarta - UNDP |
| Lokasi Program | : | Nanggroe Aceh Darussalam |
| Nilai Kontrak | : | Rp. 1.060.725.000,- |
| Periode | : | November 2005 s/d Februari 2006 |
Latar Belakang Memasuki masa 1 (satu) rehabiitasi dan rekonstruksi pasca tsunami di Aceh telah memunculkan beragam apresiasi atau penilain publik terhadap pelaksanaannya. Ada penilaian yang positif dan tidak sedikit pula memberikan penialain yang negative dari berbagai pihak. Hal ini tentu memunculkan berbagai permasalahan yang begitu kompleks baik mekanisme pelaksanaan maupun pola kerja multipihak (Pemda, NGO, dan BRR). Maka evaluasi terhadap kerja para pihak yang terlibat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi kebutuhan penting untuk mengukur sejauh mana proses ini berjalan lancar atau mengalami stagnasi. Ini akan menjadi pijakan untuk menentukan tindak lanjut tahap berikutnya.
Kurangnya informasi dua arah antara pihak yang bekerja untuk rekonstruksi Aceh dengan masyarakat (beneficiaries) menyebabkan rencana dan pelaksanaan rekonstruksi tidak diketahui publik. Akibatnya akuntabilitas publik para pihak pelaksana rekonstruksi ini belum maksimal.Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk mengkoordinasikan semua bentuk kegiatan rehabitasi dan rekonstruksi di Aceh memiliki otoritas untuk mengatur lalu lintas para pelaksana rekonstruksi di Aceh. Badan ini berperan penting untuk menentukan standar, wilayah dan mekanisme pihak yang bekerja dalam rekonstruksi ini. Sehingga tidak ada tumpang tindih ataupun duplikasi program dalam suatu wilayah kerja tertentu.
Untuk menjawab semua persoalan tersebut, ADF melalui donasi UNDP mendukung Jaringan NGO Aceh (Forum LSM Aceh, Koalisi NGO HAM Aceh, SULÖH, KKTGA, WALHI Aceh) dan JKMA Aceh menggelar Tsunami Summit sebagai wadah untuk mempertegas peran dan keterlibatan seluruh komponen yang menjadi stakeholder dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh.
Tujuan Program
1. Meningkatnya partisipasi masyarakat korban dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi
2. Terpetakan masalah dan tantangan yang menghambat proses rekonstruksi
3. Adanya distiribusi informasi atas kerja-kerja rekonstruksi di Aceh
4. Adanya ruang penyembuhan trauma (trauma healing) dan wadah kreativitas masyarakat korban
5. Adanya rekomendasi yang disampaikan pada pengambil kebijakan.

Image
Pentas Seni Tsunami Summit
Aktivitas Program
1. Semiloka Issue di 3 Region: Banda Aceh, Aceh Barat dan Aceh Utara
2. Lokakarya Lintas Issue di Banda Aceh
3. Pagelaran Seni
4. Dzikir, Doa bersama dan Kenduri Rakyat
5. Publikasi dan Dokumentasi
a. Publikasi
b. Dokumentasi
c. Perumusan Kertas Posisi serta Lobby dan Hearing
Capaian Program
- Teridentifikasinya masalah-masalah yang dihadapi dalam proses Rehablitasi dan Rekonstruksi seperti infrastruktur dan tata ruang yang belum terbangun, kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, adanya pergeseran nilai-nilai sosial budaya dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi, lemahnya peran dan fungsi lembaga adat, kurang transparannya lembaga-lembaga pemerintah terhadap proses rehabilitasi dan rekonstruksi dan kurang koordinasinya Badan pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi dengan pemerintah dalam menjalankan program-programnya. Hal lain terkait dengan kurang tersedianya lapangan kerja bagi para korban tsunami dan kurang tersosialisasinya kesepakatan damai antara GAM dan RI kepada masyarakat Aceh.
- Adanya distribusi informasi atas kerja-kerja rehabilitasi dan rekontrustruksi dengan pembuatan spanduk, leaflet lepada masyarakat.
- Adanya ruang penyembuhan trauma (trauma healing) dan wadah creativitas masyarakat korban dengan diadakannya pagelaran seni dan dzikir dan doa ditengah-tengah korban tsunami.
- Adanya rekomendasi yang disampaikan kepada penambil kebijakan dengan terumuskannya yertas posisi yang akan ditujukan lepada para penentu kebijakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Hambatan-hambatan yang dihadapi
- Pencairan dana (pembiayaan program) terlambat.
- Sulitnya mendapat informasi yang akurat dari mengenai agenda Pemda dan BRR, sehingga pelaksanaan kegiatan kenduri rakyat berubah dari rencana semula.
- Sebagian anggota tim kurang berpengalaman, kurang disiplin dan kurang rasa tanggungjawab.
- Laporan pelaksana semiloka di 3 region terlambat dan kurang bisa dipertanggungjawabkan.
Rekomendasi
| 1. | Perlu adanya manajemen dan sumberdaya manusia yang memadai untuk terciptanya efektifitas kerja yang baik. |
| 2. | Perlu membangun kekompakan tim, disipin dan rasa tanggungjawab penuh terhadap kinerja yang telah diamanahkan. |
| 1. | Kerjasama yang baik dengan pihak luar (NGO, akademisi, pers) dan pihak - pihak lain perlu ditingkatkan. |
| 2. | Pihak funding agency makin membuka diri terhadap program yang dikerjakan mitra-mitra ADF. |