BANDA ACEH, Aceh Development Fund (ADF) bersama mitranya akan membangun pabrik asap cair di Gampong Beunyot, Kecamatan Juli, Bireuen, melalui program Teknologi Ramah Lingkungan untuk Industri Proses Perikanan (TERAPAN).
Program Manajer TERAPAN, Faisal Hadi, mengatakan di Banda Aceh, Jumat (22/7), areal yang disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk lokasi pembangunan pabrik asap cari seluas 60 x 50 meter persegi.
“Saat ini, kita sedang melakukan proses tender untuk pembangunan pabrik,” katanya seraya menambahkan bahwa total anggaran yang diplotkan mencapai Rp2,3 milyar yang di dalamnya mencakup untuk peralatan mesin dan training kepada pengelola serta masyarakat setempat.
Pabrik itu nanti menjadi milik Badan Usaha Milik Gampong (BUMG), dengan pengelola direkrut sesuai spesifikasi dan kualifikasi di bagian posisi pekerjaan yang dijalankan.
Dana untuk membangun pabrik itu bersumber dari hibah Multi Donor Fund (MDF) melalui proyek Fasilitas Pembiayaan Pembangunan Ekonomi (EDFF). ADF bersama mitranya – Perkumpulan BIMA, An-Nisaa’ Centre dan Fakultas Teknik, Unsyiah – mendapat kepercayaan melaksanakan program TERAPAN.
Faisal juga menyebutkan bahwa pihaknya akan melakukan berbagai pelatihan baik kepada pengelola pabrik maupun masyarakat Gampong Beunyot supaya industri asap cair yang dibangun terus berlanjut setelah program TERAPAN berakhir.
Umi Fathanah, Koordinator Industri Asap Cair, menambahkan bahwa pabrik tersebut menggunakan bahan baku 1.200 kilogram tempurung kelapa perhari dan 1 sampai 1,5 meter kayu kubik sehari.
“Dari hasil pembakaran, nanti akan diperoleh produk 400 liter asap cair, 120 liter tar dan 400 kilogram arang dalam sehari,” kata Umi.
Dijelaskan bahwa asap cair adalah cairan yang dihasilkan dari pembakaran tanpa oksigen (pirolisis) yang diembunkan. Sedangkan, pirolisis adalah reaksi pembentukan secara fisika dengan kaedah pembakaran tidak sempurna.
Asap cair yang diproduksi dari pabrik itu ada tiga jenis yaitu grade 1, grade 2, dan grade 3. Asap cair grade 1 digunakan untuk pengawet makanan siap saji seperti mie, baso, tahu dan lain-lain. Asap cair grade 2 dapat dipakai sebagai bahan pengawet ikan basah. Sedangkan, asap cair grade 3 bisa dipakai untuk penggumpal lateks.
“Kita berharap masyarakat memakai asap cair, terutama untuk mengawetkan ikan basah dan berbagai jenis makanan siap saja lainnya karena telah dijamin aman bagi kesehatan,” katanya.
Selama ini, sebagian masyarakat menggunakan formalin untuk mengawetkan ikan basah dan makanan siap saji padahal sangat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi, pemerintah terus berusaha memberantas penggunaan formasi pada bahan makanan dan ikan basah.
Produk arang yang dihasilkan dari pembakaran dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan arang aktif, pedagang sate atau warga yang memanfaatkan arang dalam kesehariannya. Sedangkan, tar bisa dipakai untuk kayu meubel sebagai bahan antirayap.
“Jadi, semua yang dihasilkan dari industri asap cair itu bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis,” kata Umi.