Serambi»Program»Penguatan Ekonomi»Projek Terapan»Industri Garam»ADF Bangun Pabrik Garam Beryodium di Aceh

ADF Bangun Pabrik Garam Beryodium di Aceh
Adi Warsidi, Tempointeraktif.com
Kamis, 23 Juni 2011 20:32 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh - Aceh Development Fund (ADF) dan mitranya akan membangun dua unit pabrik garam beryodium di Gampong Lancang, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, dan Gampong Alue Bie, Kecamatan Jangka, Bireuen.

Afrizal Tjoetra, Direktur Eksekutif ADF, mengatakan, kedua pabrik garam beryodium itu dibangun untuk membantu petani garam Pidie Jaya dan Bireuen dalam peningkatan kualitas dan kuantitas produksi garam.
"Kita berharap kedua pabrik garam beryodium itu dapat memenuhi kebutuhan garam berstandar nasional untuk masyarakat Aceh khususnya dan bisa dipasok ke sejumlah daerah lain di Sumatera," katanya, Kamis, 23 Juni 2011.

Pabrik garam yang dibangun nantinya masing-masing bisa memproduksi 3 ton garam per hari. Pasokan bahan bakunya tersedia di lokasi binaan, yang mempunyai luas lahan 200 hektar dengan jumlah petani garam aktif mencapai 565 orang. "Industri garam itu nanti menjadi milik koperasi yang anggotanya petani garam setempat," kata Afrizal.

Pembangunan pabrik garam itu, menurut Afrizal, merupakan bagian dari sejumlah kegiatan program Teknologi Ramah Lingkungan untuk Industri Proses Perikanan (Terapan). Dananya bersumber dari hibah Multi Donor Fund (MDF) melalui proyek Fasilitas Pembiayaan Pembangunan Ekonomi (EDFF).

Program ini dikerjakan ADF dan tiga mitranya yang tergabung dalam suatu wadah konsorsium. Ketiga lembaga mitra itu adalah Perkumpulan BIMA, An-Nisaa’ Centre dan Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Menurut Afrizal, Aceh adalah satu dari sembilan provinsi di Indonesia yang memiliki lahan garam terbesar. Kendati wilayah pantai Aceh mencapai 1.660 kilometer, tetapi industri garam belum tergarap dengan baik. Selama ini, masyarakat pesisir masih memproduksi garam secara tradisional.

Cara kerja seperti itu tentu saja kurang efisien karena jumlah garam yang dihasilkan terbatas. Penjualannya juga hanya di pasar lokal. Selain itu kualitas garam belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga tak bisa dipasarkan secara luas.

Faisal Hadi, Manager Program Terapan, menambahkan bahwa program bantuan bagi masyarakat diharapkan akan berkesinambungan.

Selain membangun pabrik garam, ADF juga akan merenovasi dapur garam dan filter penyaring air garam milik 169 petani garam di Gampong Lancang dan Grong-Grong Capa, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Total dana yang disediakan untuk program garam, termasuk fisik, peralatan mesin dan pelatihan, mencapai Rp 3,15 miliar. "Kami berharap pembangunan pabrik garam beryodium dapat meningkatkan kualitas dan produktifitas petani garam di kedua daerah itu," ujarnya.