BANDA ACEH - Aceh Development Fund (ADF) dan tiga mitranya telah membentuk koperasi perempuan petani garam di kabupaten Pidie Jaya melalui program Teknologi Ramah Lingkungan untuk Industri Proses Perikanan (Terapan). Koperasi itu nanti menjadi penerima manfaat industri garam beryodium yang segera dibangun di daerah tersebut.
Faisal Hadi, manajer program Terapan, mengatakan di Banda Aceh, Kamis (22/9), bahwa koperasi itu terbentuk setelah sekitar 110 perempuan yang berprofesi sebagai petani garam dari Gampong (Desa) Lancang, Kecamatan Bandar Baru dan Gampong Gronggrong Capa, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, melakukan pertemuan di Meunasah Lancang, sehari sebelumnya.
Dalam pertemuan tersebut, juga hadir perwakilan ADF, pejabat Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan, Bappeda Pidie Jaya, dan aparat kedua gampong itu.
Pembentukan koperasi ituberlangsung melalui proses demokratis, mulai pemilihan panitia pembentukan, nama koperasi, hingga pemilihan pengurus. Proses dilakukan secara transparan dan parsitipatif. Semua peserta pertemuan memberikan suara dan pendapatnya selama pembentukan koperasi yang diberi nama “Bina Bersama”.
Setelah melalui proses panjang hingga menjelang petang, akhirnya Nadia Latif dari Gampong Lancang terpilih sebagai ketua koperasi. Dia didampingi Mursyidah (wakil ketua dari Gronggrong Capa), Anisah Husein (sekretaris), Rosmawar (bendahara) dan Rabunah (wakil bendahara).
“Pembentukan koperasi perempuan ini didasari pada keinginan para petani garam untuk mendapatkan masa depan lebih baik. Selama ini, mereka terjebak pada pola penjualan secara tradisionalyang kadang-kadang harganya tidak stabil,” kata Faisal.
Menurut dia, sudah saatnya petani garam di Pidie Jaya untuk bangkit. Apalagi dalam waktu dekat, pihaknya akan segera membangun sebuah pabrik garam beryodium di Gampong Lancang. Petani garam yang tergabung dalam koperasi tersebut akan menjadi penerima manfaat langsung dari pabrik garam beryodium itu.
Koordinator industri garam program Terapan, Sri Aprilia, menambahkan, pabrik itu akan menampung garam yang diproduksi secara tradisional untuk diolah kembali menjadi garam beryodium sehingga kualitasnya sesuai standar nasional. “Seluruh garam petani siap ditampung karena pabrik garam beryodiumitu memiliki peralatan mesin berkapasitas produksi tiga ton perhari,” katanya.
Sri menambahkan bahwa selain membangun pabrik garam beryodium itu, pelaksana program Terapan juga akan merenovasi dapur garam dan filter penyaring air garam milik 169 petani garam di Gampong Lancang dan Grong-Grong Capa, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya.
Dengan terbentuknya koperasi perempuan petani garam itu, diharapkan produksi garam petani kedua gampong tersebut akan meningkat. Alasan dipilihnya koperasi perempuan karena sebagian besar anggotanya yang merupakan para petani garam di kedua gampong itu adalah perempuan.
Program Terapan dilaksanakan ADF bersama tiga mitranya – Perkumpulan BIMA, An-Nisaa’ Center, dan Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, yang tergabung dalam satu wadah konsorium. Program Terapan adalah bagian dari proyek Fasilitas Pembiayaan Pembangunan Ekonomi Aceh (AEDFF), yang dananya bersumber dari hibah Multi Donor Fund (MDF).